Senin, 24 Februari 2014

Kerajaan Kediri



KERAJAAN KEDIRI

 

Lahirnya Kerajaan Kediri berkaitan dengan adanya pembagian kekuasaan di Kerajaan Medang Mataram pada tahun November 1041. Airlangga membagi kerajaan bertujuan untuk menghindari terjadinya perang saudara di Mataram. Setelah Mataram dibagi 2 oleh Mpu Bharada seorang Brahmana yang terkenal akan kesaktiannya, muncullah Panjalu dan Janggala yang dibatasi gunung Kawi dan sungai Brantas. Kerajaan barat yang bernama Panjalu diberikan pada Samarawijaya (iparnya) yang berpusat di kota baru dengan ibukota Daha yang meliputi Kediri, Madiun sedangkan kerajaan timur yang bernama Janggala diberikan pada Mapanji Garasakan (anak keduanya) yang berpusat di kota lama yang meliputi daerah Malang dan delta sungai Bantas, dengan pelabuhan Surabaya, Rembang dan Pasuruan ibukotanya Kahuripan. Padahal airlangga telah mempersiapkan putra sulungnya sebagai penggantinya, tapi tidak bersedia dan lebih memilih menjadi petapa yang bergelar Dewi Kilisuli. Sumber sejarah yang menceritakan pembagian kerajaan ada dalam Prasasti Wurara ada juga yang menyebut dengan nama Prasasti Mahaksubya (1289 M), Kitab Negarakertagama (1365 M), Kitab Calon Arang (1540 M).

Dalam Serat Calon Arang dijelaskan bahwa ‘sesungguhnyA kota Daha sudah ada sebelum Kerajaan Kediri berdiri. Daha merupakan singkatan dari Dahanapura yang berarti kota api tapi ini terdapat pada prasasti Pamwatan yang dikeluarkan Airlangga tahun 1042.’ Saat akhir pemerintahan Airlangga, pusat kerajaan sudah tak lagi berada di Kahuripan, melainkan pindah ke Daha.Menurut kitab Negarakertagama, sebelum dibelah menjadi 2, nama kerajaan yang dipimpin oleh Airlangga sudah bernama Panjalu yang berpusat di Daha. Jadi, Kerajaan Janggala lahir sbg pecahan dari Panjalu. Adapun Kahuripan adalah nama kota lama yang sudah ditinggalkan Airlangga dan kemudian menjadi ibukota Kerajaan Janggala.

Dalam perkembangan selanjutnya, ibukota Kerajaan Panjalu di Daha dipindahkan ke wilayah Kediri sehingga nama kerajaan lebih dikenal sebagai Kerajaan Kediri. Pada awalny, nama Panjalu memang lebih sering dipakai daripada nama Kediri. Hal ini dapat dijumpai dalam prasasti-prasasti  yang diterbitkan oleh Raja-raja Kediri. Bahkan nama Panjalu juga dikenal sebagai Pu-Chia-Lung dlm kronik Cina yang berjudul Ling Wai Tai Ta (1178).

 

RAJA – RAJA KERAJAAN KEDIRI

1.     1. SRI SAMARAWIJAYA, putra airlangga = prasasti PAMWATAN (1042).

Sepeninggal Raja Airlangga dan selama kekuasaan Samarawijaya, Kerajaan Janggala dan Panjalu tidak pernah hidup berdampingan secara damai. Perebutan kekuasaan terus berlangsung hingga tahun 1042, Mapanji Garasakan dapat mengalahkan Samarawijaya. Diabadikanlah nama Raja Mapanji Garasakan (1042-1052 M) dalam Prasasti Malenga. Ia tetap memakai lambang Kerajaan Airlangga, yaitu Garuda Mukha (Wisnu Naik Garuda). Namun Mapanji tidak lama memimpin Kerajaan. Tampuk pemerintahan lalu jatuh ditangan Raja Mapanji Alanjung Ahyes (1052-1059 M) dan kemudian digantikan lagi oleh Sri Maharaja Samarotsaha. Pertempuran yang terus menerus antara Janggala dan Panjalu menyebabkan selama kira-kira 60 tahun tidak ada berita yang jelas mengenai kedua Kerajaan tersebut hingga muncullah nama Raja Sri Maharaja Sri Bameswara

 

2.      2. SRI JAYASWARA = prasasti SIRAH KETING (1104)

Tidak diketahui langsung ia adalah pengganti langsung sri samarawijaya.

 

3.  3. SRI BAMESWARA = prasasti PADELEGAN I (1117), prasasti PANUMBANGAN (1120), prasasti TANGKILAN (1130).

Raja Sri Maharaja Sri Bameswara (1116-1135 M) dari Kediri yang menggunakan lancana Candrakapale yaitu tengkorak yang bertaring diatas bulan sabit. Pada masa pemerintahannya banyak dihasilkan karya-karya sastra bahkan kiasan hidupnya yang dikenal dalam Cerita Panji.

 

4.  4. SRI JAYABHAYA, raja terbesar panjalu = prasasti NGANTANG (1135), KAKAWIN BHARATAYUDHA (1157).

Bameswara diganti oleh Sri Maharaja Sri Jayabhaya (1135-1159 M) yang menggunakan lencana Kerajaan berupa lencana Narasingha yaitu setengah manusia setengah singa. Pada masa pemerintahannya Kerajaan Kediri mencapai puncak kejayaan dan juga banyak dihasilkan karya sastra terutama ramalannya tentang Indonesia antara lain akan datangnya Ratu Adil. Jayabhaya disebut sebagai penjelmaan Dewa Wisnu. Ketika ia berkuasa, pertentangan dengan Janggala berakhir setelah ia dapat menguasai Kerajaan tersebut. Atas kemenangan tersebut ia memperingatinya dengan memerintahkan Mpu Sedah untuk menggubah Kakawin (syair) Bharatayudha sebagai peringatan atas peperangan Kediri dan Janggala. Karena Mpu Sedah tidak sanggup menyelesaikan Kakawin tersebut, Mpu Panuluh melanjutkan dan menyelesaikannya pada tahun 1157 M. Jayabhaya juga terkenal akan ramalannya yang sering disebut Jangka Jayabhaya.

Meskipun demikian, kenyataannya 2 pujangga yang hidup sezaman dengan Prabu Jayabhaya, yakni Mpu Sedah dan Mpu Panuluh sama sekali tidak menyebut dalam kitab-kitab mereka (Kakawin Bharatayudha, Kakawin Hariwangsa, Kakawin Gatotkacasraya) bahwa Prabu Jayabhaya memiliki karya tulis. Kakawin Bharatayudha hanya menceritakan peperangan antara Kediri dan Janggala. Sedangkan Kakawin Hariwangsa dan Kakawin Gatotkacasraya berisi tentang cerita ketika sang Prabu Kresna, titisan batara Wisnu ingin menikah dengan Dewi Rukmini, dari negri Kundina, putri Bismaka. Rukmini sendiri adalah titisan dari Dewi Sri.

Kakawin Bharatayudha yang digubah oleh 2 pujangga Kediri merupakan kisah perang saudara yang diilhami kitab Mahabharata karangan Wyasa Kresna Dwaipayana, seorang pujangga India. Kitab tersebut mengisahkan perang perebutan takhta Kerajaan Hastinapura di antara keluarga Kurawa dan Pandawa yang dimenangkan oleh Pandawa.

Ramalan Jayabhaya atau sering disebut dengan Jangka Jayabhaya adalah ramalan dalam tradisi Jawa yang salah satunya dipercaya ditulis oleh Jayabhaya, raja Kerajaan Kediri. Ramalan ini dikenal pada khususnya dikalangan masyarakat Jawa yang dilestarikan secara turun temurun oleh para pujangga. Asal usul utama serat Jangka Jayabhaya dapat dilihat di kitab Musasar yang digubah oleh Sunan Giri Prapen. Sekalipun banyak keraguan keasliannya tapi sangat jelas bunyi bait pertama kitab Musasar yang menuliskan bahwasanya Jayabhaya-lah yang membuat ramalan-ramalantersebut. Isinya:

a.       Besuk yen wis ana kreta tanpa jaran -- kelak jika sudah ada kereta tanpa kuda

b.      Prahu mlaku ing dhuwur awang-awang -- perahu berjalan di angkasa

c.       Kali ilang kedhunge -- sungai kehilangan mata air

d.      Sekilan bumi dipajeki -- Sejengkal tanah dikenai pajak.

e.       Wong Wadon Nganggo Pakeyan Lanang – Orang Perempuan berpakaian lelaki.

f.         

5.     5. SRI SARESWARA = PADELEGAN II (1159), prasasti KAHYUNAN (1161).

Sepeninggal Jayabhaya, Kerajaan Kediri dipimpin oleh Sareswara (1159-1169 M). tidak banyak yang diketahui mengenai raja ini sebab terbatasnya peninggalan yang ditemukan. Ia memakai lencana Kerajaan berupa Ganesha.

 

6.      6. SRI ARYESWARA = prasasti ANGIN (1171).

Sepeninggal Sareswara, Kerajaan Kediri berurut-turut dipimpin oleh Aryyeswara, Kroncaryyadipa. Kemudian pemerintahan Kerajaan jatuh ditangan Raja Kameswara

 

7.      7. SRI GANDRA = prasasti JARING (1181).

Terdapat sesuatu yang menarik pada masanya, yaitu untuk pertama kalinya didapatkan orang-orang terkemuka menggunakan nama-nama binatang sebagai namanya, seperti Kebo Salawah, Manjangan Puguh, Macan Putih, Gajah Kuning, dan sebagainya.

 

8.      8. SRI KAMESWARA = prasasti CEKER (1182), KAKAWIN SMARADHANA

Raja Kameswara (1182-1185 M) selama beberapa waktu tidak ada berita yang jelas mengenai Raja Kediri hingga ia muncul. Masa pemerintahan ini ditulis dalam Kitab Kakawin Smaradhana oleh Mpu Darmaja yang berisi pemujaan terhadap raja, serta Kitab Lubdaka dan Wretasancaya yang ditulis oleh Mpu Tan Akung. Kitab Lubdaka bercerita tentang seorang pemburu yang akhirnya masuk surga dan Wretasancaya yang berisi petunjuk mempelajari tembang Jawa Kuno. Pada masa ini perkembangan karya sastra mencapai puncak kejayaannya. Beberapa karya sastra yang muncul selain yang disebut diatas antara lain Kitab Kresnayana, karya Mpu Triguna ; Kitab Sumanasantaka, karya Mpu Managuna.

 

9.     9. KERTAJAYA = prasasti GALUNGGUNG (1194), prasasti KAMULAN (1194), prasasti PALAH (1197), prasasti WATESKULON (1205), NEGARAKERTAGAMA, PARARATON.

Selanjutnya pada tahun 1185-1222 M yang menjadi raja Kediri adalah Kertajaya dan raja terakhir kerajaan Kediri. Ia memakai lencana Garuda Mukha seperti Ria Airlangga, sayangnya ia kurang bijaksana, sehingga tidak disukai oleh rakyat terutama kaum Brahmana. Dalam masa pemerintahannya, terjadi pertentangan antara dirinya dan para Brahmana hal inilah akhirnya menjadi penyebab berakhirnya Kerajaan Kediri.

 

KEHIDUPAN EKONOMI KERAJAAN KEDIRI

Kediri merupakan Kerajaan agraris maritim. Perekonomian Kediri bersumber atas usaha perdagangan, peternakan dan pertanian untuk masyarakat yang hidup di daerah pedalaman. Sedangkan yang berada di pesisir hidupnya bergantung dari perdagangan dan pelayaran. Mereka telah mengadakan hubungan dagang dengan Maluku dan Sriwijaya. Kediri terkenal sebagai penghasil beras, kapas dan ulat sutra. Kerajaan Kediri cukup makmur, hal ini terlihat pada kemampuan Kerajaan yang memberikan penghasilan tetap pada para pegawainya walaupun hanya dibayar dengan hasil bumi.

Keterangan tersebut berdasarkan kitab Chi-fan-Chi (1225) karya Chau Ju-kua mengatakan bahwan Su-ki-tan yang merupakan bagian dari She-po (Jawa) telah memiliki daerah taklukkan. Para ahli memperkirakan Su-ki-tan adalah sebuah Kerajaan yang berada di Jawa Timur, dan yang tak lain dan tak bukan adalah Kerajaan Kediri. Mungkin juga Su-ki-tan sebagai kota pelabuhan yang telah dikenal para pedagang dari luar negeri, termasuk Cina. Pemerintahannya sangat memperhatikan keadaan rakyatnya sehingga pertanian, perdagangan dan peternakan mengalami kemajuan yang cukup pesat.

Golongan dalam masyarakat Kediri dibedakan menjadi tiga berdasarkan kedudukan dalam pemerintahan kerajaan, yaitu:

1.   1. Golongan masyarakat pusat(kerajaan) : masyarakat yang terdapat dalam lingkungan raja dan beberapa kaum kerabatnya serta kelompok pelayannya.

2.   2. Golongan masyarakat tani (daerah) : golongan masyarakat yang terdiri atas para pejabat atau petugas pemerintahan di wilayah tani (daerah).

3.   3. Golongan masyarakat nonpemerintah : golongan masyarakat yang tidak mempunyai kedudukan dan hubungan dengan pemerintahan secara resmi atau masyarakat wiraswasta.

Kediri memiliki 300 lebih pejabat yang mencatat dan mengurus semua penghasilan Kerajaan. Disamping itu ada 1000 pegawai rendahan yang bertugas mengurusi benteng dan parit kota serta gedung persediaan makanan.

 

KEHIDUPAN SOSIAL KERAJAAN KEDIRI

Kehidupan sosial masyarakat Kediri cukup baik karena kesejahteraan rakyat meningkat, masyarakat hidup tenang. Dalam kitab Ling-wai-tai-ta (1178) karya Chou-Ku-fei yang menerangkan bahwa orang-orang Kediri memakai kain sampai lutut, rambutnya di urai, rumah-rumah telah teratur dan bersih, lantai ubinnya berwarna hijau dan kuning. Pertanian dan perdagangan telah maju, orang-orang yang salah didenda dengan emas. Pencuri dan perampok dibunuh, telah digunakan mata uang perak, orang sakit tidak menggunakan obat tapi memohon kesembuhan pada Dewa atau kepada Buddha. Tiap bulan ke-5 diadakan pesta air, alat musik yang digunakan berupa seruling, gendang, dan gambang dr kayu. Dengan kehidupan masyarakatnya yang aman dan damai maka seni dapat berkembang antara lain kesusastraan yang paling maju adalah seni sastra terutama Jawa kuno. Namun, karya-karya sastra pada masa Kerajaan Kediri kurang mengungkap keadaan pemerintahan dan masyarakat pada zamannya. Pada masa Kameswara perkembangan karya sastra mencapai puncak kejayaannya.

 

RUNTUHNYA KERAJAAN KEDIRI 

Kertajaya adalah raja terakhir kerajaan Kediri. Ia memakai lencana Garuda Mukha seperti Ria Airlangga, sayangnya ia kurang bijaksana, sehingga tidak disukai oleh rakyat terutama kaum Brahmana. Dalam masa pemerintahannya, terjadi pertentangan antara dirinya dan para Brahmana hal inilah akhirnya menjadi penyebab berakhirnya Kerajaan Kediri.

Pertentangan itu disebabkan Kertajaya dianggap telah melanggar adat dan memaksa kaum brahmana menyembahnya sebagai Dewa. Para Brahmana kemudian meminta perlindungan pada Ken Arok di Singosari. Kebetulan Ken Arok juga berkeinginan memerdekakan Tumapel (Singosari) yang dulunya merupakan bawahan Kediri. Tahun 1222 pecahlah pertempuran antara prajurit Kertajaya dan pasukan Ken Arok di desa Ganter. Dalam peperangan ini, pasukan Ken Arok berhasil menghancurkan prajurit Kertajaya. Dengan demikian berakhirlah masa Kerajaan Kediri, yang sejak saat itu menjadi bawahan Kerajaan Singosari. Runtuhnya kerajan Panjalu-Kediri pada masa pemerintahan Kertajaya dikisahkan dalam Kitab Pararaton dan Kitab Negarakertagama.

Setelah Ken Arok mengangkat Kertajaya, Kediri menjadi suatu wilayah dibawah kekuasaan Kerajaan Singosari. Ken Arok mengangkat Jayasabha, putra Kertajaya sebagai Bupati Kediri. Tahun 1258 Jayasabha digantikan putranya yang bernama Sastrajaya. Pada tahun 1271 Sastrajaya digantikan oleh putranya , yaitu Jayakatwang. Tahun 1292 Jayakatwang menjadi bupati geleng-geleng. Selama menjadi bupati, Jayakatwang memberontak terhadap Singosari yang dipimpin oleh Kertanegara, karena dendam di masa lalu dimana leluhurnya yaitu Kertajaya dikalahkan oleh Ken Arok. Setelah berhasil membunuh Kertanegara, Jayakatwang membangun kembali Kerajaan Kediri, namun hanya bertahan satu tahun. Hal itu terjadi karena adanya serangan gabungan yang dilancarkan oleh pasukan Mongol dan pasukan menantu Kertanegara, Raden Wijaya.

 

PENINGGALAN KERAJAAN KEDIRI

Prasasti-prasasti yang menjelaskan tentang Kerajaan Kediri antara lain , yaitu :

1.    1. Prasasti BANJARAN berangka tahun 1052 M menjelaskan kemenangan Panjalu atas Janggala.

2.    2. Prasasti HANTANG berangka tahun 1052 M menjelaskan Panjalu pada masa Jayabhaya.

Selain dari prasasti-prasasti tersebut, ada lagi prasasti yang lain tetapi tidak begitu jelas. Dan yang banyak menjelaskan tentang Kerajaan Kediri adalah hasil karya berupa kitab sastra seperti kitab Kakawin Bharatayudha yang ditulis oleh Mpu Sedah dan Mpu Panuluh yang menceritakan tentang kemenangan Kediri (Panjalu) atas Janggala. Kronik Cina juga banyak memberikan gambaran tentang kehidupan masyarakat dan pemerintahan Kediri yang tidak ditemukan dari sumber lain. Berita tersebut disusun melalui kitab yang berjudul Ling-mai-tai-t yang ditulis oleh Choi-ku-fei tahun 1178 M dan kitab Chi-fan-Chi yang ditulis oleh Chau-ju-kua tahun 1225 M.

Dan di era 2000-an terdapat penemuan situs tondowongso tepatnya awal tahun 2007 yang diyakini sebagai peninggalan Kerajaan Kediri. Dalam perkembangan politiknya wilayah kekuasaan Kediri masih sama seperti kekuasaan Raja Airlangga, dan raja-rajanya banyak yang dikenal dalam sejarah karena memiliki lencana atau lambang tersendiri.Semua peninggalan sejarah-sejarah tersebut diharapkan dapat membantu memberikan lebih banyak tentang perkembangan Kerajaan Kediri dalam berbagai aspek kehidupan

Kamis, 05 Desember 2013

Pola Hunian dan Sistem Kepercayaan Manusia Purba



POLA HUNIAN

Lingkungan merupakan faktor penentu manusia memilih lokasi permukiman. Oleh karena itu, manusia memperhatikan kondisi lingkungan dan penguasaan teknologi. Terdapat beberapa variabel yang berhubungan dengan kondisi lingkungan, antara lain:

1.   1. Tersedianya kebutuhan akan air, adanya tempat berteduh, dan kondisi tanah yang tidak terlalu lembab,

2. 2. Tersedianya sumber daya makanan baik berupa flora-fauna dan faktor-faktor yang memberikan kemudahan di dalam cara-cara perolehannya (tempat untuk minum binatang, batas-batas topografi, pola vegetasi),

3.  3. Faktor-faktor yang memberi elemen-elemen tambahan akan binatang laut atau binatang air (dekat pantai, danau, sungai, mata air) (Subroto,1995:133-138;Butzer,1984:14-21).

Kehidupan manusia pada masa prasejarah tergantung pada lingkungan dan penguasaan teknologi. Sumber-sumber subsistensi dari lingkungan ditambah dengan penguasaan teknologi pada masa itu, mengakibatkan pola kehidupan berburu dan mengumpulkan makanan. Selain itu, manusia juga memanfaatkan bentukan alam untuk mempertahankan hidupnya. Oleh karena itu, gua dan ceruk menjadi salah satu alternatif tempat tinggal bagi manusia pada masa prasejarah (Nurani,1999:1-13).

Selain sumber daya yang memadai, aspek-aspek fisik lingkungan merupakan faktor penting lainnya yang menentukan kelayakan suatu lokasi untuk permukiman. Dalam kaitannya dengan hunian gua, faktor-faktor tersebut meliputi morfologi dan dimensi tempat hunian, sirkulasi udara, intensitas cahaya, kelembaban, kerataan dan kekeringan tanah, dan kelonggaran dalam bergerak (Yuwono,2005).

Kawasan Gunung Sewu merupakan daerah yang bercirikan ribuan bukit karst yang menampilkan sejarah kehidupan manusia, setidaknya sejak kala Pleistosen Akhir hingga Holosen Awal. Salah satu karakter budaya yang khas adalah pemanfataan gua dan ceruk secara intensif. Ekskavasi yang telah dilakukan di sejumlah gua hunian prasejarah di Gunungkidul memberikan gambaran adanya aktivitas pemanfaatan bahan baku yang tidak berasal dari wilayah permukimannya. Beberapa temuan yang didapatkan di gua-gua itu merupakan hasil dari daerah pantai, bukan dari daerah pedalaman, seperti peralatan dan perhiasan dari cangkang kerang laut dan juga adanya temuan hasil eksploitasi daerah pantai di situs-situs pedalaman tetapi belum diketahui bagaimana temuan itu dapat sampai di pedalaman. Dari hasil barter antara komunitas pantai dan pedalaman, atau hasil eksploitasi komunitas pedalaman di daerah pantai. Dengan terungkapnya bagaimana hubungan itu terjadi maka data tersebut berguna untuk memahami proses penghunian dan migrasi manusia purba di Jawa dan Indonesia (Tanudirjo dkk,2003:1–2).

Data yang diperoleh dari hasil survei penelitian pendahuluan di Kecamatan Tanjungsari, Gunungkidul yang dilakukan oleh Tim PTKA UGM pada tahun 2003 (Tanudirjo, dkk., 2003; Yuwono, 2005: 40-51; lihat Peta 1) dan survei lanjutan oleh penulis pada tahun 2006 diketahui adanya 53 situs gua dan 23 diantaranya merupakan situs gua dan ceruk yang potensial dijadikan hunian pada masa prasejarah. Dari hasil PTKA tahun 2003 tersebut diketahui adanya pola spasial gua dan ceruknya, terdiri atas tiga kelompok yaitu daerah pesisir, daerah pedalaman, dan daerah ‘antara’. Namun dari penelitian tersebut tipe hunian gua dan ceruk tersebut belum diketahui, gua untuk hunian sementara atau atau hunian menetap.

 

Sejarah api pertama kali ditemukan

 

Dalam sejarah banyak sekali penemuan-penemuan yang sangat membantu bagi kehidupan kita, dan hampir setiap penemuan dalam sejarah bisa merubah kehidupan umat manusia hingga dunia. Salah satunya adalah api, sedikit aneh memang kalau kita membicarakan tentang api, namun api yang kita pergunakan memang merubah bagi kehidupan, dan kita juga harus tahu sejarah pertama kali api itu ditemukan di dunia ini. Api sangat dibutuhkan bagi kelangsungan hidup manusia walau kadang api ini menimbulkan masalah. Tergantung seperti apa api itu kita gunakan, ada pepatah mengatakan "kecil jadi kawan dan besar jadi lawan". Manfaat api memang sudah bisa kita rasakan dalam kehidupan seperti untuk penerangan, memasak, menghangatkan tubuh dan lain sebagainya.

Dan terkadang kita bertanya-tanya bagaimana api mula-mula ditemukan dan siapa penemunya?, Api atau energi panas yang pada awalnya bisa kita dapatkan dengan membenturkan dua buah batu atau dengan mmenggesekan dua buah kayu, sehingga akan menimbulkan percikan api yang kemudian bisa kita gunakan pada ranting kering atau daun kering yang kemudian bisa menjadi sebuah api. Pertama kali api dikenal adalah pada zaman purba yang secara tidak sengaja mereka melihat petir yaitu cahaya panas dilangit yang menyambar pohon-pohon disekitarnya, sehingga api itu pun muncul membakar pohon-pohon itu. Mulai dari situ lah peradaban mulai berubah, para manusia purba itu pun baru mengenal api untuk memasak, penerangan dan yang lainnya.

 

 

      SISTEM KEPERCAYAAN

Pada saat itu masyarakat sudah mengenal kepercayaan pada tingkat awal. Mereka yakin bahwa ada hubungan antara orang yang sudah meninggal dan yang masih hidup. Mereka telah mengenal kepercayaan sistem penguburan sebagai bukti penghormatan terakhir kepada orang yang meninggal. Hal ini terbukti dengan didirikan kuburan sebagai bukti penghormatan terakhir pada orang yang meninggal Hal ini menunjukkan bahwa telah muncul kepercayaan pada masa berburu dan meramu. Dengan penguburan berarti telah muncul konsep kepercayaan tentang adanya hubungan antara orang yang sudah meninggal dengan yang masih hidup.

Kepercayaan terhadap roh inilah dikenal dengan istilah Aninisme. Aninisme berasal dari kata Anima artinya jiwa atau roh, sedangkan isme artinya paham atau kepercayaan. Di samping adanya kepercayaan animisme, juga terdapat kepercayaan Dinamisme. Dinamisme adalah kepercayaan terhadap benda-benda tertentu yang dianggap memiliki kekuatan gaib. Contohnya yaitu kapak yang dibuat dari batu chalcedon (batu indah) dianggap memiliki kekuatan.

Manusia purba di Indonesia pada masa ini diperkirakan sudah mengenal bahwa jenazah manusia itu harus dikubur. Kesadaraan akan adanya kekuatan gaib di luar perhitungan manusia. Itulah yang menjadi dasar kepercayaan.


Bangsa Proto Melayu dan Bangsa Deutero Melayu

a.      A. Bangsa Proto Melayu (Bangsa Melayu Tua)

Kira-kira pada tahun 1500 SM bangsa Proto Melayu masuk ke Indonesia. Bangsa Proto Melayu memasuki Indonesia melalui dua jalur/jalan, yakni jalan barat, yaitu melalui Malaya - Sumatra dan jalan timur, yaitu melalui Pilipina - Sulawesi Utara. Bangsa Proto Melayu memiliki kebudayaan yang setingkat lebih tinggi daripada kebudayaan Homo Sapiens Indonesia. Kebudayaan mereka adalah kebudayan batu-baru atau Neolitikum (neo = baru, lithos = batu). Meskipun barang-barang hasil kebudayaan mereka masih terbuat dari batu, tetapi telah dikerjakan dengan baik. Barang-barang hasil kebudayaan yang terkenal ialah kapak persegi dan kapak lonjong.

Kebudayaan kapak persegi dibawa oleh bangsa Proto Melayu yang melalui jalan barat, sedangkan kebudayaan kapak lonjong dibawa melalui jalan timur. Bangsa Proto Melayu akhirnya terdesak dan bercampur dengan bangsa Deutero Melayu yang kemudian menyusul masuk ke Indonesia.
Bangsa Indonesia sekarang yang termasuk keturunan bangsa Proto Melayu, misalnya suku bangsa Batak, Dayak, dan Toraja.


B. Bangsa Deutero Melayu (Bangsa Melayu Muda)

Kira-kira tahun 500 SM, nenek moyang kita gelombang ke dua mulai memasuki Indonesia. Bangsa Deutero Melayu memasuki Indonesia melalui satu jalan saja, yaitu jalan barat (yakni melalui Malaya-Sumatera). Menurut N. Daldjoeni (1984), bangsa Deutero Melayu atau Melayu Muda ini berasal dari Dongson di Vietnam Utara, sehingga mereka ini kadang kala disebut orang-orang Dongson. Mereka telah memiliki kebudayaan yang lebih tinggi daripada bangsa Proto Melayu.

Peradaban mereka ditandai dengan kemampuan mengerjakan logam dengan sempurna. Barang-barang hasil kebudayaan mereka telah terbuat dari logam. Mula-mula dari perunggu dan kemudian dari besi. Hasil kebudayaan logam di Indonesia yang terpenting ialah kapak corong atau kapak sepatu dan nekara. Di bidang pengolahantanah, mereka telah sampai pada usaha irigasi atas tanah-tanah pertanian
yang berhasil mereka wujudkan, yakni dengan membabad hutan terlebih dahulu.

Sudah selayaknya mereka mencari daerah-daerah seperti di Jawa dan pantai-pantai Sumatra untuk digarap seperti di negeri asal mereka. Mereka juga telah mengenal perikanan laut dan pelayaran, sehingga rute perpindahan ke Nusantara juga memanfaatkan jalan laut. Bangsa Indonesia sekarang yang termasuk keturunan bangsa Deutero Melayu, misalnya suku bangsa Jawa, Madura, Menado dan Melayu (Sumatra, Kalimantan dan Malaka). Selanjutnya berdasarkan perbedaan ras, manusia ( penduduk ) Indonesia awal paling tidak ada 4 (empat) ras, yaitu Manusia Purba, Ras Weddid (Wedda), Ras Papua - Melanesoida (Negrito), dan Ras Melayu (Austronesia).

Kehidupan di Zaman Praaksara



Pada masa Pra aksara memiliki beberapa masa pembelajaran diantaranya :

a)    Masa Berburu dan Mengumpulkan Makanan
Pada masa ini manusia jaman purba untuk bisa bertahan hidup sesuai dengan kondisi alam dan suasana alam. Apabila binatang buruan dan bahan makanan sudah habis, mereka akan mencari dan pindah ke tempat yang lebih subur. Inti dari kehidupan sehari-hari masyarakat ini adalah mengumpulkan bahan makanan dari alam untuk dikonsumsi saat itu juga. Tempat mukimnya adalah gua-gua di pedalaman atau tepi-tepi pantai. Bukti adanya pengenalan terhadap kepercayaan dan kesenian, yaitu ditemukan lukisan cap tangan yang diberi warna merah dan lukisan babi hutan yang terdapat pada dinding gua Abris Sous Roche, seperti yang ditemukan di Seram dan di Irian Jaya dan gua Leang-Leang Sulawesi Selatan. Warna merah dianggap memiliki kekuatan magis. Lukisan cap tangan dianggap memiliki makna tanda berkabung dari seorang wanita yang ditinggal mati suaminya, karena pada umumnya jari manis pada lukisan tangan tersebut dipotong.

b)    Masa Bercocok Tanam
Sistem bercocok tanam dikenal dengan sistem persawahan. Dalam sistem ini digunakan lahan yang terbatas dan kesuburan tanahnya dapat dijaga melalui pengolahan tanah, irigasi, dan pemupukan. Masyarakat tersebut sudah memilih pemimpinnya dengan cara musyawarah sesuai dengan prinsip primus inter pares. Pemilihan pemimpin yang berdasarkan prinsip primus inter pares menandakan bahwa pemimpin tersebut dipilih di antara mereka yang memiliki kelebihan, baik fisik maupun keahliannya.


c)    Masa Perundagian

Pada masa ini Hidup masyarakat teratur dan makmur. Kemakmuran masyarakat dapat diketahui melalui perkembangan teknik pertama dengan mengembangkan pertanian yang intensif dan sebagai akibatnya sektor pertanian mengalami perkembangan yang pesat. Hal ini berdampak pada kemajuan perekonomian, yang ditandai dengan berkembangnya perdagangan dan pelayaran. 


Belajar dari kehidupan manusia pada zaman pra aksara, maka terdapat nilai-nilai budaya sebagai peninggalan yang dapat kita maknai. Adapun nilai-nilai tersebut sebagai berikut:

a. Nilai Gotong Royong

Manusia praaksara hidup secara berkelompok, bekerja untuk kepentingan bersama, membangun rumah juga dilakukan secara bersama. Hal tersebut dapat dibuktikan dari adanya bangunan-bangunan megalith yang dapat dipastikan dibangun secara gotong royong.

b. Nilai Keadilan

Nilai keadilan sudah diterapkan dalam kehidupan masyarakat praaksara sejak masa berburu, yaitu adanya pembagian tugas sesuai dengan kemampuan dan keahliannya. Tugas antara kaum laki-laki berbeda dengan kaum perempuan. Sikap keadilan ini berkembang pada masa perundagian. Dari nilai tersebut, mencerminkan sikap yang adil karena setiap orang akan memperoleh hak dan kewajiban yang berimbang dengan keahliannya.

c. Nilai Musyawarah

Nilai musyawarah sudah dikembangkan oleh masyarakat praaksara dalam interaksi bermasyarakatnya seperti dalam pemilihan pemimpin usaha pertanian dan perburuan. Hal tersebut menjadi dasar bagi tumbuh dan berkembangnya prinsip hidup demokrasi

d. Nilai Religius

Nilai religius mencerminkan adanya kepercayaan terhadap sesuatu yang berkuasa atas mereka. Dalam hal ini mereka berusaha membatasi perilakunya. Sikap yang perlu diwariskan adalah sikap penghormatan kepada yang lain, mengatur perilaku agar tidak semaunya dan penghormatan serta pemujaan sebagai dasar keagamaan.